Fitohormon adalah sekumpulan
zat-zat yang membantu pertumbuhan, sering disebut juga zat penumbuh atau hormon
pertumbuhan. Zat-zat penumbuh yang telah diketahui antara lain auksin,
sitokinin, giberelin, asam absisat dan etilen. Fitohormon yang digunakan pada
praktikum ini adalah auksin sintetik yaitu 2,4 Diklorofenoksiasetat. Auksin
terbentuk di puncak koleoptil dan beredar kebagian-bagian yang ada di bawah
koleoptil, jadi auksin mengalir dari puncak ke dasar.
Menurut Gardner, sifat-sifat tertentu
yang dimiliki senyawa fitohormon yaitu:
1. Tempat
sintetis berbeda dari tempat aktivitas (misalnya, sintesis dipucuk dan daun
muda, tetapi responnya pada batang, akar, atau organ-organ lainnya).
2. Respon
bisa dihasilkan meskipun jumlahnya yang sangat kecil misalnya dalam konsentrasi
kecil (biasa sekecil nanogram)
3. Tidak
seperti vitamin dan enzim, respon
mungkin berbentuk formatif dan lastik (tidak terpulihkan).
Salah
satu peran penting fitohormon adalah pengaruhnya terhadap daun. Pengaruh ini
dapat bermacam bentuknya, dari mulai membantu primordial daun baru, merangsang
pertumbuhan daun hingga merangsang perontokan daun. Seluruh hormon tunbuhan
tersebut sudah diproduksi oleh tumbuhan itu sendiri di saat yang tepat, karena
mereka bekerja dengan mempengaruhi sintesis protein (tingkat DNA).
Auksin berpengaruh terhadap
pertumbuhan dengan merangsang pembesaran sel di jaringan meristem juga
pengembangan sel-sel yang ada di daerah belakang meristem. Sel-sel tersebut
menjadi panjang dan berisi air. Auksin mempengaruhi pengembangan dinding sel,
mengakibatkan berkurangnya tekanan dinding sel terhadap protoplas. Karena
tekanan dinding sel berkurang, protoplas mendapat kesempatan untuk meresap air
dari sel-sel yang ada di bagian bawahnya. Sel-sel yang terdekat pada titik
tumbuh mempunyai nilai osmosis yang tinggi. Sehingga diperoleh sel yang panjang
dengan vakuola yang besar di daerah belakang titik tumbuh (Dwidjoseputro, 1980:
165).
Auksin mendorong pembesaran
sel pada batang, akar dan daun. Auksin sintetik memiliki fungsi yang sama
dengan auksin yang diproduksi oleh tumbuhan. Namun ada beberapa faktor yang
mempengaruhi aktivitas auksin sintetik antara lain :
1. Kemampuan menembus kutikula atau epidermis yang berlilin.
2. Kemampuan berinteraksi dengan hormon lain.
3. Fase pertumbuhan.
4. Spesies tambahan.
5. Lingkungan seperti suhu, radiasi dan lain-lain.
Auksin sintetik seperti 2,4
Deklorokfenoksiasetat biasanya digunakan sebagai herbisida. Senyawa ini dan
senyawa yang sekelompok pada konsentrasi tertentu dapat mempunyai efek yang
efektif. Biasanya, tumbuhan berdaun lebar baik monokotil maupun dikotil mati
pada konsentrasi yang dianjurkan. 2,4-Dichlorophenoxyacetic
acid (2,4-D) adalah herbisida sistemik yang umum untuk digunakan dalam
mengontrol gulma yang tumbuh dalam tanaman pertanian. Herbisida ini merupakan
jenis terbanyak yang digunakan di seluruh dunia. Tidak hanya itu, 2,4-D dikenal
sebagai salah satu jenis auksin sintetik yang penting.
Selain sebagai herbisida, 2,4-D juga
berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh yang bila digunakan dalam konsentrasi
rendah akan merangsang dan menggiatkan pertumbuhan tanaman. Sebaliknya apabila
digunakan dalam konsentrasi yang tinggi akan menghambat pertumbuhan bahkan
dapat mematikan tanaman. Senyawa ini memiliki sifat yang selektif pada gulma,
sehingga dapat mematikan gulma tetapi tanaman pokok yang dibudidayakan tidak
terganggu.
Sebagai salah satu senyawa yang masuk ke
dalam grup hormon auksin, maka 2,4-D dapat bekerja maksimum untuk pembelahan
dan pembesaran sel serta pembentukan akar stek bila diberikan dalam konsentrasi
rendah. Herbisida jenis 2,4 -D ini tergolong ideal, karena memiliki beberapa
kelebihan diantaranya : relatif murah, tidak meninggalkan racun pada hewan,
tidak menyebabkan karatan, tidak mudah terbakar dan mudah diencerkan dalam
pengaplikasiannya. Senyawa 2,4-D sangat ampuh untuk membasmi gulma berdaun
sempit pada lahan persawahan (www.plantphysiol.org).
Komentar
Posting Komentar